« - ··.·÷×Rümãh÷SîPüt×÷·.··»
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tentang Ibu Tentang Ibu
Darahku mendadak berdesir deras, detak jantungku mengencang, seperti sebuah firasat yang tak kusuka. Apa pun yang terjadi pada Ibu, aku terima.
Vira masih diam. Padahal sudah dua jam kami di sini, menikmati teriakan-teriakan ombak, menyaksikan angin melempar ribuan buih menjauh dari pantai. Aku tak tahu apa yang ada di kepalanya, Vira lebih suka membiarkanku berpikir sendiri daripada membagi apa yang ia rasakan.
“Aku mau pulang,” ujarku bosan.
Vira tak menanggapi.
“Sudahlah, Sayang. Lupakan kesalahannya, ibu hanya manusia biasa yang bisa khilaf,” kucoba membujuk Vira.
“Tapi aku malu, Kak. Kita ini anak-anak tak jelas, punya ibu tanpa tahu siapa bapaknya.” Vira melempar lagi beberapa kerikil ke laut.
“Ibu pasti punya alasan kuat kenapa beliau begitu, kita tanyakan saja nanti.”
“Aku sudah sering melakukannya, dan yang kudapat kemudian adalah hal yang sama. Dia marah. Selalu begitu!”
Aku mendesah panjang. Adikku Vira yang kini sudah bukan siswi SMA lagi ternyata belum juga dewasa. Ia ingin segala sesuatu terlihat apa adanya, mengalir begitu saja. Padahal hidup tak selamanya semudah dan sesimpel itu, tapi sulit menjelaskan padanya. Vira tetap saja bungsu yang rapuh dan manja.
“Pulanglah, Kak. Aku ingin di sini lebih lama,” lirih Vira berucap.
“Hari sudah sore, nanti Ibu mencemaskan kita.”
“Tidak, dia tak pernah peduli. Aku ingin ketenangan di sini.”
“Bukan di sini mencari ketenangan, Vira, ayolah!,” aku menarik tangannya lembut. Walau sempat menolak, akhirnya Vira luluh juga.
Sepanjang perjalanan menuju mobil, Vira menggelayut di lenganku. Orang-orang yang melihat pasti mengira kami adalah pasangan kekasih, siapa sangka, dua orang yang sama sekali tak mirip ini lahir dari rahim yang sama? Vira memang lebih dekat denganku daripada dengan Mbak Mia, saudara kami satu lagi. Mbak Mia telah bersuami dan tinggal di rumahnya sendiri. Pada saat pernikahan kakak sulung kami itulah terkuak bahwa ternyata bapak dari aku, Vira, dan Mbak Mia adalah orang yang berbeda. Tentu saja kami semua terpukul.
Entah bagaimana bisa ibu membohongi kami begitu lamanya, entah apa yang beliau lakukan hingga bisa memasukkan nama fiktif seseorang pada akta kelahiran ketiga anaknya, dan entah apa yang bisa ibu lakukan untuk mengembalikan perhatian Mbak Mia dan keceriaan Vira. Dua saudaraku memang serta merta memperlihatkan kekecewaan mereka pada ibu. Bukan hanya karena mereka perempuan – yang seringkali mengedepankan emosi daripada logika – tapi memang karena merekalah yang merasakan langsung imbas dari aib ini.
Menjelang pernikahannya, Mbak Mia mendesak ibu untuk memberitahu alamat Pak Suhairi, orang yang namanya tertera pada akta kelahiran kami. Dulu ibu pernah bilang bahwa mereka telah bercerai, dan untuk menambal kebohongannya, belakangan ibu bilang Pak Suhairi telah meninggal, padahal sebelumnya ibu mengatakan tak pernah lagi melakukan kontak dengan orang yang beliau akui sebagai bapak kami itu. Lalu dari mana beliau tahu Pak Suhairi meninggal?.
Usut punya usut, ternyata Pak Suhairi hanyalah kekasih Ibu di masa lampau, ia tak bisa – menurutku tak bersedia – menghadiri pernikahan putrinya karena sedang berada di luar negeri. Pak Suhairi cuma menyampaikan permintaan maaf dan selamat kepada Mbak Mia, sekaligus memberi pernyataan tegas bahwa ia hanya bapak dari Mbak Mia, bukan aku dan Vira. Pantas kami tak mengenal kakek atau nenek selain dari pihak Ibu.
Aku tak peduli semua itu. Bagiku hidup harus terus berjalan, toh semua sudah terjadi. Perbaiki saja yang bisa diperbaiki, dan jangan mengulang kesalahan serupa yang pernah diperbuat di masa lampau. Seburuk apa pun ibu, beliau tetaplah ibuku, yang kurasakan cintanya dari dulu hingga kini. Tapi tidak begitu bagi dua saudaraku.
Tiba di rumah, Vira langsung mengunci diri di kamar. Kulihat ibu pura-pura tak menyadari kehadiran kami. Aku tahu, beliau sedang berusaha menekan rasa sakit atas perlakuan dua anak perempuannya. Tubuh yang kini ringkih itu menyandar lemah di kursi santai ruang tengah, matanya menerawang, mungkin sedang memandang ke masa lalunya yang kurasa pahit.
“Ibu,” sapaku.
Beliau menoleh, senyum lembutnya mengembang terpaksa.
“Maafkan Vira dan Mbak Mia, Bu.” Kuambil tangan ibu yang tak lagi halus, dan meletakkannya ke atas pangkuanku.
“Memang sudah sepantasnya begitu. Ibu ingin memberitahu sesuatu padamu, To.”
“Tidak perlu, Bu. Ibu tidak usah menjelaskan apa-apa. Anto tetap sayang Ibu, Anto tidak akan pernah menebak yang macam-macam tentang masa lalu Ibu, seperti yang Mbak Mia dan Vira tuduhkan.”
“Tapi itulah kenyataannya, Nak.” Sontak airmata ibu mengalir.
Aku terperangah tak percaya. Setahuku ibu adalah perempuan yang baik, relijius malah. Mana mungkin ibu bergelut dalam dunia malam seperti yang Mbak Mia dan Vira katakan.
Mbak Mia termakan ucapan bapaknya, Pak Suhairi, yang bilang bahwa bapakku dan bapak Vira adalah orang yang berbeda. Tapi laki-laki pengecut itu tak menceritakan selebihnya, hanya membuka aib. Apakah dulu, ketika ia bersama ibuku, ia tak merasakan kebaikan perempuan itu? Mustahil.
“Dulu, setelah gagal menuntut pertanggungjawaban Suhairi atas Mia, Ibu mencari laki-laki lain yang bersedia menampung kami, karena kakek dan nenek kalian tak mau menerima Ibu kembali,” ibu melanjutkan. “Seorang kenalan kemudian membawa Ibu ke rumahnya, dan tanpa Ibu sadari, ternyata ia menjual Ibu kepada seorang mucikari. Setelah itu...” ibu terisak.
“Sudahlah, Bu. Jangan diteruskan jika itu menyakitkan,” kucegah Ibu melanjutkan, karena telinga, kepala, dan hatiku merasa tersayat.
“Dengarkan, Nak! Barangkali ini kesempatan terakhir Ibu menyampaikannya.”
“Kenapa Ibu bicara begitu?”
Ibu tak mempedulikan protesku. “Ibu terjebak pelacuran, selama itulah kamu dan Vira lahir.”
Aku terhenyak sesaat, “Demi Tuhan, Anto tidak menyalahkan Ibu, Anto tahu Ibu terpaksa.”
“Tapi kenapa Ibu tidak mencoba untuk kabur dari sana?” tiba-tiba Vira sudah berada di belakang kami. Kulihat matanya memerah.
“Mia disandera mucikari itu, Nak. Ibu baru bisa lepas darinya setelah menyerahkan semua uang yang Ibu kumpulkan dari Mia belum lahir sampai ia memasuki usia sekolah dasar. Itulah sebabnya kalian terlambat masuk sekolah, Ibu harus mengumpulkan uang dulu untuk itu. Tentu saja dengan cara yang lebih baik, menjadi pembantu rumah tangga.”
Sekonyong-konyong Vira mendekap ibu, airmatanya tumpah. Hatiku bergemuruh, rahangku mengatup kuat menahan ledakannya.
“Kenapa Ibu menyembunyikan semua itu selama ini?” Vira masih saja bertanya dalam tangisnya.
“Ibu malu, tapi akhirnya Ibu merasa bersalah telah membohongi kalian. Dan di akhir usia yang takkan lama ini, Ibu minta kalian memaafkan Ibu.”
“Tentu saja kami memaafkan Ibu.” Kucium punggung tangan Ibu yang masih di pangkuanku.
“Sampaikan juga maaf Ibu untuk Mia.”
“Justru Mbak Mia dan Vira yang seharusnya meminta maaf pada Ibu karena telah berprasangka buruk,” isak Vira makin membuncah.
Telepon di sebelahku berdering, segera kuangkat, “Halo.”
“Anto, kamu harus cepat memeriksa kesehatanmu,” suara Mbak Mia tergesa.
“Ada apa, Mbak?”
“Kata Pak Suhairi, Ibu terinfeksi ha-i-ve!”
Aku menahan napas sejenak dan membuangnya perlahan.
“Anto, kamu dengar, kan?”
Kuletakkan gagang telepon, kembali fokus pada Ibu dan Vira. Kedua orang terkasih itu tak perlu tahu kabar apa yang kudapat. Pak Suhairi jangan sampai memperbesar luka dalam diri Ibu karena puluhan tahun silam, apalagi menambah luka itu di masa kini.
“Dari Mbak Mia-mu, kan?”
Aku hanya mengangguk, tak mampu membohongi Ibu dan tak tega pula untuk jujur.
“Apa katanya?”
“Tidak penting, Bu. Teruskan saja pembicaraan dengan Vira, Anto mau ke dalam dulu.” Aku hendak pamit, tapi Ibu cepat menangkap lenganku.
“Tunggu dulu, ada yang harus Ibu sampaikan sebelum terlambat.”
Darahku mendadak berdesir deras, detak jantungku mengencang, seperti sebuah firasat yang tak kusuka. Apa pun yang terjadi pada Ibu, aku terima. Sekalipun jika aku turut terinfeksi, tak apa, aku bertekad dalam hati.
“Tak lama lagi Ibu akan meninggalkan kalian, karena...”
“Karena apa, Bu?” Vira memotong tak sabar.
“Ibu positif ha-i-ve.”
Vira terkulai di hadapan Ibu, ia seperti kehabisan tenaga, pun untuk sekadar melanjutkan tangisnya.
“Tapi tenang saja, Ibu mendapatkannya setelah kalian lahir, dan Ibu sengaja tidak menyusui anak-anak Ibu karena tahu ada penyakit yang bisa saja tertular pada kalian.”
Andai Mbak Mia ada di sini, bagaimana mungkin ia tidak menangis dan menyesali apa yang telah diperbuatnya pada Ibu. Perempuan paruh baya itu kini tengah menjelang maut, tapi ia tampak tegar. Tentu saja, karena aku dan ibu percaya, dengan atau tanpa penyakit itu, setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Kutekan beberapa tombol di telepon, meminta Mbak Mia untuk mendengarkan langsung kebenaran dari mulut Ibu, bukan dari bapaknya yang tak bertanggungjawab itu. Di sampingku, Vira kian dalam membenamkan kepalanya ke pelukan Ibu.
Villa No.10 Villa No.10
Gamma menggeleng. Dengan pelan ia mengusap air matanya. Aku tahu, ia tak ingin membuatku sedih.
Jakarta, 20.00, Cilandak Town Square…
“Maksud lo apa, sih?!!!!,” teriak Nina meledak.
“Maksud gue?? Udah jelas kan semuanya, gue udah capek sama lo!!,” tantang Adit dengan suara yang tak kalah kerasnya.
“Kenapa sih, Lo Cuma bisa nyalahin gue, memangnya lo nggak pernah punya salah sama gue??!!! Asal lo tahu, gue juga udah bosen sama lo, tahu!!!!” ucap Nina tak mau kalah.
“Baik, sepertinya hubungan kita sudah nggak bisa dilanjutkan lagi, lebih baik kita putus!!!” ujar Adit mantap.
Kalimat Adit itu meluncur bagai bom waktu bagi Nina, kepalanya serasa ditimpa beban yang berat, lidahnya kelu, tubuhnya kaku.
Malam itu, berakhirlah jalinan kasih antara mereka..
Anyer, 06.00, Villa nomor 9…
Sejak malam itu, dunia serasa berhenti berputar bagi Nina. Dia benar-benar tidak menyangka, bagaimana mungkin ia yang gadis cantik jelita nan molek, popular, dan memikat, ketua tim cheerleaders sekolah, yang selama ini menjadi harta karun yang teramat berharga bagi kaum adam di sekolahnya, beberapa waktu yang lalu baru saja disakiti hatinya oleh mantan kekasihnya yang amat dikasihinya? Mungkin, ini merupakan hukum karma bagi Nina, karena selama ini, dia dikenal sebagai biang keladi yang membuat kaum adam tersakiti hatinya. Karena polahnya yang sering berganti-ganti lelaki sesering berganti pakaian. Namun, lain halnya
dengan Adit, lelaki yang satu ini benar-benar berbeda untuk Nina.
Dia adalah satu-satunya lelaki yang mampu membuat hati Nina bergetar setiap kali memandangnya, membuat darah di dalam tubuh Nina seakan mendidih apabila mendengar suaranya, dialah satu-satunya lelaki yang mampu membuat Nina terbelalak, di matanya nampak seorang pemuda yang tak cuma memiliki paras yang tampan tetapi juga berperawakan tinggi gagah, membuat hati Nina menjadi terkebat-kebit tak karena cinta.
Maka, disinilah Nina sekarang, di Villa milik orangtuanya di daerah anyer. Dengan maksud hati ingin menutup dan mengubur lembaran-lembaran kelam yang pernah dilaluinya bersama Adit.
Pagi itu, kala matahari masih bersinar temaram, udara masih sejuk dan lembab, samar-samar nyanyian kicau burung merdu terdengar, Nina beranjak dari villanya untuk berlari pagi yang memang sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging baginya.
Ketika derap langkahnya melewati villa tetangganya, villa nomor 10, mendadak mata Nina terbelalak, di matanya nampak seorang pemuda yang tak cuma memiliki paras yang tampan tetapi juga berperawakan tinggi gagah, membuat hati Nina menjadi terkebat-kebit tak karuan.
”Hai,” sapanya sopan,
“Namaku Dias, aku tinggal di sini, villa nomor 10. Kamu siapa?” tanyanya lembut.
“Eh... mm... N-namaku Ni-Nina, aku te-tetangga sebelah kamu,” jawab Nina gugup, saking masih terpesonanya karena ketampanan wajah Dias.
“Oh, kamu mau lari pagi, ya? Kita bareng aja, yuk!! Kebetulan aku juga mau lari pagi,” ajaknya.
Bersama-sama mereka berdua berlari pagi sambil mengobrol-ngobrol santai agar bisa mengenal satu sama lain lebih jauh.
“Kamu sedang berlibur di sini?,” tanya Dias.
“Oh iya,” jawab Nina.
“Sendirian?”
“Iya”
“Keluargamu di mana?”
“Sibuk, lagipula aku di sini memang sedang ingin mencari ketenangan, tidak masalah walau hanya sendirian,” jawab Nina, sekilas terlintas di otaknya bayangan Adit serta kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.
“Aku juga sedang berlibur disini, villa nomor 10 itu memang milikku” ucap Dias tanpa ditanya.
“Sendirian juga?”
“Iya, tapi mungkin Rizky akan datang,”
“Rizky itu siapa,”
“Oh, dia itu… mmm… temanku, teman dekat, sangat dekat bahkan,” jawab Dias yang air mukanya mendadak menjadi senang, senyum-senyum kecil menghiasi wajahnya.
“Kapan dia akan datang?”
“Kurang tahu, tapi dia pasti datang,” kata Dias yang mendadak tersenyum-senyum sendiri.
“ Ngomong-ngomong, berapa lama kamu akan tinggal?”
“Mungkin seminggu. Kamu?”
“Aku juga akan tinggal selama seminggu disini,”
Anyer, 19.00, Seminggu kemudian, ruang tamu villa nomor 10…
Selama seminggu tinggal di villa, kehidupan Nina berubah total, dia tak lagi bersedih mengingat-ingat akan Adit dan masa lalunya. Sekarang pikirannya sedang sibuk memikirkan Dias, ketampanan wajahnya, kebaikan hatinya, kelembutan sikapnya…
Selama seminggu penuh mereka menetap di Anyer, Dias sangat baik dan perhatian pada Nina. Setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan di pantai, menikmati panorama alam yang indah, mendengar desir ombak yang deras, berenang di laut dangkal, belajar surfing, hiking, makan malam bersama, dan berbagai macam hal mereka lalui bersama-sama. Tampaknya Dias sudah berhasil menyinggahi tempat teristimewa di hati Nina.
Malam ini, merupakan malam perpisahan mereka. Nina dan Dias berniat untuk mengadakan acara makan malam hanya untuk mereka berdua saja sebagai acara malam perpisahan bagi mereka.
Nina baru saja datang, Dias lalu menyambutnya…
“Hai Nin,” sapa Dias lembut.
“Hai juga,” kata Nina.
“Kamu tunggu aku disini dulu, ya! Aku mau nyiapin makan malamnya dulu,” ujar Dias.
“Oh, nggak apa-apa,”
“Maaf ya, aku tinggal dulu,”
Dias masuk kembali ke dapur, meninggalkan Nina sendirian di ruang tamu. Nina mulai bergerak melihat-lihat ruangan itu. Ruangan itu cukup besar, dengan warna jingga mencorak, cahaya lampu putih berpendar, hawa sejuk dialirkan oleh mesin pendingin ruangan, bau aroma therapy membelai hidung dengan lembut, bunyi detak jam dinding besar menusuk telinga.
Di bagian depan ruang tamu itu tergeletak indah sebuah sofa besar yang amat mewah, yang membuat siapa pun menjadi nyaman dibuatnya. Bagian kiri ruangan itu dihinggapi oleh sebuah meja pendek yang panjang, yang dipergunakan Dias untuk memperlihatkan koleksi foto-fotonya. Di situ Nina melihat, semua foto yang bertengger mengabadikan gambar Dias dengan seorang lelaki, tampaknya mereka berdua sangat akrab. Perkataan Dias kembali memutar di pikirannya, mungkin lelaki yang ada di foto-foto itu adalah Rizky, sahabat Dias.
Nina beranjak menuju bagian kanan ruangan, di sana berdiri dengan anggun sebuah meja kerja ukuran sedang yang agak berdebu namun kesan mewah masih terpancar. Mata Nina terpaku pada sebuah buku yang tergeletak terdiam di tengah meja kayu tersebut. Jemarinya refleks meraih buku itu. Ternyata itu buku harian Dias.
Naluri keisengan Nina mendadak saja muncul, dibukanya buku harian Dias. Matanya terbelalak tak percaya seiring lembaran demi lembaran terbuka.
Semakin dia membuka dan membaca buku itu, semakin pikirannya dihantui ketidakpercayaan, semakin mulutnya terbuka lebar tak pecaya, semakin hatinya bergetar. Nina sama sekali tidak menyangka bahwa Dias, yang tampan, yang gagah perkasa, yang baik hatinya, yang amat memesona, yang amat memikat, adalah seorang... gay!.
Hari Sudah Malam Hari Sudah Malam
DARI kejauhan, hanya cahaya lampu-lampu yang menyelamatkan kota itu untuk tak disebut tenggelam. Angin tiba. Angin yang terlihat sudah begitu tua bangka. Ia seperti menghela nafasnya yang mulai lambat, satu-dua, seusai mengunjungi kota demi kota, melewati negeri demi negeri. Ia terlihat begitu lelah, semacam ingin rebah atau istirah dari keperihan barang sejenak saja. Begitulah!
Tetapi kukira, ia harus berpikir ulang sekalipun untuk tidur sebentar. Mungkin sebab sebuah kota yang dikunjunginya kini, adalah sebuah kota dengan seribu cerobong asap. Mesin bergemuruh siang-malam, pagi dan petang. Maquiladoras !! Selamat datang di dunia beban !!
Hari sudah malam, Senor! Dan di malam-malam seperti inilah sebuah jalan raya kerap menyergap, sehabis sepanjang siang menyembunyikan sebilah pedang di balik pinggang. Diiringi salak anjing, ya salak anjing! Juga letusan pistol, ya… yang entah berapa ratus ribu kali lagi ia akan berdesing.
“Percayalah, bau kotamu akan semakin asing, Ernest! Terlebih Kota itu kini dipimpin Walikota yang serupa tikus got!” Ia mengingat kata-kata itu sesampainya di pekarangan sebuah rumah. Sembari memperhatikan teras, tempat dulu bermain kuda kayu bersama ayahnya sewaktu kecil. Chery, serta cemara-cemara yang telah tumbang.
Kemudian terlihat pintu rumah dibuka oleh seorang lelaki tua yang membalikkan badan, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalam. Terakhir, lelaki tua itu membanting pintu, lantas menuju mobil bak yang juga tua yang tengah terparkir di halaman, di samping taman.
“Hei, rupanya kau pulang juga, anak berandal. Musim dingin yang berkah, Maria!” lelaki tua itu menyapa Ernest.
“Ya, Senor!” ucap Ernest dingin, setelah terdiam agak lama.
“Malam yang dingin, Nak! Sepertinya aku membutuhkan sedikit alkohol. Aku hendak keluar. Mungkin kau juga membutuhkan sesuatu?” tawar lelaki tua itu sambil memasuki mobil baknya, seusai mengenakan topi serta mengetatkan jaketnya.
“Tidak! Terima kasih banyak!” jawabnya, “Dari dulu aku hanya meminta kau menjaga ibu dan adikku,” lanjut Ernest lirih setelah lelaki tua bangka itu berlalu.
Dan di depan pintu, seorang wanita yang juga telah tua menyambutnya penuh rindu, buru-buru wanita itu memeluknya, seperti ingin merahasiakan pipinya yang lebam biru.
“Lama kamu tak pulang, Nak! Roose sudah jadi gadis yang cantik sekarang. Ia selalu mengigaukanmu dan merindukan dongeng-dongengmu!” ucap wanita tua itu melepaskan pelukan. Tetapi pemuda itu, seperti masih enggan melepaskan mata dari rambut ibunya yang telah dirimbuni uban, dan getar bibir keriput yang seperti menyimpan penyesalan.
“Bagaimana keadaannya, Bu? Penyakit itu?” pemuda itu melepas tatapannya lalu bergegas menuju pintu sebuah kamar. Wanita tua itu hanya tertunduk.
Di dalam kamar, seorang gadis terbaring tenang. Seperti seseorang yang melewati tahun demi tahun dengan nyaman. Persis delapan tahun lalu, masih di kamar dan di ranjang itu.
“Lihatlah, Bu, ia benar-benar telah tumbuh menjadi gadis yang cantik! Seperti putri tidur!” ucap pemuda itu di sisi ranjang, sambil mengusap dan mengecup rambut adiknya yang pirang dan mulai jarang. Juga pita hitam yang masih menyimpul di leher baju adiknya itu, adalah pita hitam delapan tahun silam. Sebuah tanda perkabungan dan dukacita yang lama dan dalam.
Betapa Ernest ingat ketika ia pergi meninggalkan rumah; kampung dan berhektare-hektare ladang yang murung, pembangunan, pabrik-pabrik, dan pusat-pusat perbelanjaan. Pembangkangan, kandang kuda, dan gereja-gereja yang terbakar. Dan terakhir, sebuah penjara bawah tanah yang benar-benar sunyi. Yeah, betapa segalanya masih terekam dalam kepala.
***
TELAGA lima warna, di samping lokasi pemakaman sempit yang dihuni ratusan salib. Pemuda itu masih tertunduk di hadapan kubur ayahnya yang telah lama meninggal. Beserta adiknya yang berwajah lesu. Di atas kursi roda.
“Seperti katamu dulu, telaga ini kini telah begitu keruh! Mungkin tak ada lagi peri-peri yang kerap bersuci dengan riang di sini seperti yang kau ceritakan dalam don geng-dongeng itu.” kata gadis itu di bibir telaga, sambil memainkan simpul pita hitam di leher bajunya.
“Begitulah Roose, halnya dengan udara yang tercemar. Bayangkan! Akhirnya kita dipaksa belajar menghela nafas dengan sangat pelan-pelan, sangat hati-hati dan sabar,” kata pemuda itu seusai mengecup sebuah nisan, lalu melemparkan matanya ke tengah telaga. Menatap hidupnya, dan menatap kenangan.
Ah, kenangan! Siapa pula yang bisa mengingkarinya. Tahun-tahun silam, begitulah yang sering ia lakukan: ketika senja, kerap dengan matanya ia menggiring angsa ke bibir telaga, dan mengkhidmati permukaan telaga yang gemerlap. Terkadang, jika sehabis hujan, telaga itu kerap menyalakan pelangi.
Tetapi begitulah kapitalisme, katanya, suatu ketika. Dari tahun ke tahun terus mengusung kecemasan demi kecemasan. Dan sekeras apa pun itu disembunyikan, tetapi tetap ia adalah sebuah kecemasan.
Sebuah lapangan kosong di samping sebuah pacuan kuda, tempat ia dan teman-temannya bermain sepakbola, telah menjelma bangunan lapangan futsal. Berhektare-hektare ladang, menjelma pabrik-pabrik dan perkantoran, dan swalayan-swalayan. Dan sebuah mata air di sebelah utara rumahnya, dipagari benteng paling tinggi setelah sebuah perusahaan air mineral mengklaim bahwa sumber mata air itu miliknya. Dan seperti yang kau tahu, segala sesuatu itu meruncing pada sebuah kesimpulan: bayar!
Mungkin sejak saat itulah Ernest mulai jarang berada di rumah. Ia pergi kemana saja dengan hatinya yang naif, meratapi kenyataan, bahwa kenapa uang adalah jalan penghabisan [3]. Dan barangkali jika suatu kali kau pernah mendengar ada seseorang yang menangis di dalam hatimu karena hal semacam itu, maka percayalah, orang itulah orangnya!
“Aku ingin tertawa Roose! Ketika mendoakan kesembuhanmu, mendoakan mendiang Ayah, mengecup kening Ibu, dan mencintai sesuatu aku harus membayar telebih dulu dengan sejumlah dollar!” ucapnya seusai mendongeng, pada suatu ketika, pada suatu malam, saat suara mesin-mesin dari arah pabrik begitu bising di telinga.
“Maka bekerjalah, anak berandal! Desa kita telah menjelma kota. Maka kau bisa bekerja di mana saja, seperti teman-temanmu! Daripada keluyuran! Lagipula apa yang kau hasilkan dari acara keluyuran itu?” potong ayah tirinya di ruang tamu, di hadapan televisi yang tengah menayangkan iklan produk susu. Dari dalam televisi itu muncul dua sosok wajah yang bertutur dengan ramah. Tetapi telinga Ernest hanya mendengar seruan dan teriakan-teriakan: Konsumsi! Konsumsi! Ayolah konsumsi produk kami! Kami bersumpah demi Bunda Maria, demi badai tornado, jangan mengaku Anda adalah seorang manusia kalau Anda belum mengonsumsi produk kami!
Sejenak pemuda itu tertawa mendengar khayalannya mengoceh. Tetapi lantas, ia kemudian melanjutkan apa yang hendak diucapkan sebelumnya.
“Senor, dan tiba-tiba aku membaca, bahwa di matamu segala hasil akhir mestilah sejumlah uang! Benarkah perkiraanku ini, Senor?”
“Tentu saja, anak tolol! Lagi pula di zaman seperti ini tak ada seorang pun yang tak menyembah uang! Sebab minyak wangi, bir, dan tusuk gigi sekali pun harus dibeli memakai uang,” sergah tua bangka itu dengan wajah merah padam.
“Jika begitu, maka sepertinya aku memilih kafir saja, Senor!” pemuda itu menyahut dengan nada enteng.
“Dasar anak sampah! Kau pantas jadi orang miskin,” hardik ayah tirinya itu lantas menatap ke arah kamar. “Lihatlah anakmu ini, Maria! Anak yang sia-sia!” lanjutnya.
Tapi pemuda itu memilih keluar rumah, menuju arah suara mesin pabrik yang begitu bising seperti amarah. Seperti amarah. Dan malam itu, mungkin adalah sebuah malam terakhir ia pamit pada ibunya dan menceritakan sebuah dongeng bagi Roose. Sebab di malam itu pulalah ia kedapatan tengah berusaha menghancurkan mesin utama sebuah pabrik tekstil, menggunakan sebuah martil.
Dan, oh Roose… potongan dongeng malam itu melayang-layang di kepalanya ketika ia terjaga, ketika mendapati kabar bahwa kakaknya telah masuk penjara:
Alkisah, pada suatu ketika aku dikutuk Tuhan menjadi uang. Kemudian kepadaku, orang-orang bersujud bersembahyang. Markus jadi miskin dan gila, Charro mendadak kaya dan sama jadi gila. Dan Tuhan, Ia yang Mahakaya, telah sama jadi gila karena cemburu padaku, Roose. Sementara aku, benar-benar merindukan kesunyian di tengah-tengah mereka yang gila….
“Selamat dipenjara! Selamat sunyi!” ucap Roose lirih.
***
HARI hampir malam. Ernest, pemuda itu menimbang-nimbang sebuah batu, lalu seolah mengalirkan hidup ke dalam genggaman tangannya. Ia melemparkan batu itu ke tengah telaga, seperti membuang nasib, takdir, dan hidupnya.
“Setelah masa hukumanmu berakhir. Lalu kau pergi ke mana saja?” tanya Roose.
“Chiavas! Zapatista, aku bersama orang-orang kelaparan, rakyat yang terluka, yang letih mendengarkan kebijakan ekonomi neoliberal,” jawabnya.
Kau tahu, Roose? Tiba-tiba saja ia, kakakmu, pemuda itu teringat kepada seorang bocah kecil di Chiavas sana.
Yang berperut buncit, yang kerap merintih dan berkata seperti ini; Kakak, dongengi kami, biar lupa pada rasa lapar ini mungkin dongeng tentang pesatnya pertumbuhan ekonomi [4]. Dan pada akhirnya, ia hanya bercerita tentang sebuah dongeng yang kepadamu pernah ia ceritakan, Roose. Dan Puji Tuhan, sepertinya anak-anak itu cukup senang. Dalam kelaparan.
“Hari hampir malam, Roose. Kau harus pulang! Ibu pasti khawatir! Kuantar kau sampai ke halaman rumah. Aku hendak ke gereja!” ucap pemuda itu, seraya mendekati kursi roda. Roose hanya mengangguk. Tetapi di rumah itu, di rumahmu, Roose.
Tiba-tiba saja melingkar sebuah sunyi, setelah datang seorang pengetuk pintu. Seseorang menyerahkan sesuatu kepada ibumu yang setelah itu tiba-tiba saja tersedu.
Sepucuk surat di atas meja terkapar di atas meja.
“Ada apa, Bu?” tanya Roose sesampainya di rumah. Wanita tua itu tak menyeka air matanya.
“Kamu pulang sendiri, Roose? Mana Ernest?” wanita tua itu balik bertanya. Dengan nada yang berat.
“Kakak mengantarku sampai halaman, ia kemudian pergi ke gereja!”
“Hmm, semoga saja begitu.” Wanita tua itu terisak, kini, sambil menyeka air matanya.
Kemudian ia menyerahkan sepucuk surat yang sudah basah itu kepada Roose. Roose terlihat keheranan, ditambah ia seperti lantas mencium bau kematian.
“Dari siapa, Bu?” tanya Roose.
“Seseorang mengantarkannya dari kakakmu… yang tewas dua tahun lalu…,” ucap ibunya terbata. Wajah Roose menegang.
Dan jika saja aku ditakdirkan mati di sini, di tengah para petani yang menghargai tanah leluhurnya. Di Asia Tenggara, di sebuah negara dunia ketiga, setidaknya aku mati dalam dua penyerahan: perlawanan dan kepasrahan.
Kertas surat itu kembali basah. Roose melipat surat itu dan meletakkannya dalam ingatan. Tetapi tetap saja ia menanti kakaknya pulang dari gereja meski hari sudah malam. Yeah, sudah larut malam, Roose. Dongeng untukmu selanjutnya, mungkin tentang mesin-mesin yang terus bergumam, tak henti berdebam, hingga larut malam. (*)
.
.
2010
.
.
Catatan:
[1] Istilah pabrik-pabrik baru berskala multinasional. Dalammaquiladora, para buruh memperoleh upah minimum dengan kondisi kerja yang mengenaskan. How to Succeed at Globalization: A Primer for Roadside Vendors, Rafael Barajas Duran (El Fisgon), terjemahan Ronny Agustinus (Marjin Kiri, 2005)
[2] Dikutip dari sajak Jamal Rahman (JaRah), Eksodus ke Tanah Harapan “Sepenggal Kisah Anak Buyat (Wahana Lingkungan Hidup, Walhi, 2006)
[3] Dikutip dari sajak Irvan Mulyadie, “Tembang Kota Malam”.
[4] Dikutip dari How to Succeed at Globalization: A Primer for Roadside Vendors, Rafael Barajas Duran (El Fisgon), terjemahan Ronny Agustinus (Marjin Kiri, 2005)
Langganan:
Postingan (Atom)














